Senin, 18 Mei 2015

Kisah Tentang Razi


Seperti setiap hari Senin sejak tiga minggu yang lalu, Razi, Haris dan Kiki kembali membuka komunitas mereka- “Rimba Raya” di depan Museum kampus. Komunitas ini adalah komunitas yang baru di bentuk dan bertujuan untuk menarik minat baca masyarakat. Karena ini baru permulaan, jadi  mereka hanya menetapkan satu hari yaitu setiap hari Senin untuk membaca di komunitas mereka yang telah menyediakan buku-buku yang terdiri dari Novel dan Motivasi.  
Tak seperti hari-hari Senin sebelumnya, Senin kali ini komunitas tersebut sepi, meski ada dua orang pengunjung dari Sekolah Hamzah Fznsuri yang singgah di komunitas, namun kedua nya tak bertahan lama, karena ada kepentingan lain yang membuat mereka harus segera pergi dari komunitas tersebut.
Kini hanya tinggal Haris, Razi dan Kiki. Ke tiga nya mulai berbincang-bincang tentang ide yang sempat di utarakan Rahmad-tamu dari SHF, usul tentang sebuah komunitas menulis. Sedang asyik berbincang, Kiki pamit pergi ke toilet. Sekembalinya Kiki dari toilet, ia langsung melemparkan pertanyaan kepada dua temannya itu.
“Ada nggak cara untuk membuat suara menjadi lebih dewasa?” Tanya Kiki sambil duduk di atas spanduk yang dijadikan sebagai alas untuk duduk di bawah pohon rindang tempat mereka memamerkan beberapa Novel dan buku Motivasi tersebut.
“Ada, bangun pagi, makan cabe banyak-banyak,” jawab Razi sambil tertawa ringan, membuat Kiki ikut tertawa dan mengatakan “Ada pula,”
“Ada ni, makan jeruk nipis banyak-banyak,” kali ini Haris ikut menjawab sambil tersenyum simpul.
“Ah, serius dong.” Kiki sedikit kesal namun ia masih tersenyum.
“Ki, kalau ada seseorang yang komentar tentang DP mu di BBM, gimana?” Tanya Haris tiba-tiba mengganti topic pembicaraan.
“Biasa aja.” Jawab Kiki seadanya.
“Biasa aja, Zi, nggak perlu di komentar.” Kata Haris sambil menepuk ringan bahu Razi.
“Biasa aja?!” Razi mengulang kata-kata Kiki dengan ekspresi sedikit gemes.
“Gini, kalau ada yang dekat sama Kiki, terus dia suka komentar DP or PM kamu, gimana?” Haris kembali bertanya ke Kiki yang terlihat semakin bingung.
Kiki kembali dengan jawaban yang sama, “Biasa aja.”
“Biasa aja?!” kali ini Razi mengulang kembali kata-kata Kiki dengan nada yang sedikit lebih tinggi.
“Kenapa, sih?” Tanya Kiki yang semakin bingung.
“Ki lebih suka di dekatin secara langsung atau secara PDKT, pendekatan kemudian putus?” pertanyaan Haris sukses membuat ke tiga nya tertawa lepas.
“Maksud nya?” Tanya Kiki setelah mereka kembali tenang.
“Maksud nya begini, Kiki lebih suka cowok yang ngomong suka sama cewek secara terang-terangan atau secara proses dulu?” kali ini Haris terlihat serius.
“Hmm…nggak tau juga, sih, soal nya, nggak pernah ada cowok yang PDKT or nembak Kiki secara langsung, tuh.” Jawab Kiki seadanya.
“Bukan PDKT, apa ya, istilah lainnya…hmm…” Haris nampak berfikir.
“Kenapa, sih?” Kiki mulai penasaran, kenapa tiba-tiba topic pembicaraan beralih ke cinta.
“Gini lho, si Razi suka cewek, tapi nggak tau, gimana cara ngedekatinnya.” Kata Haris mulai membuka apa yang sedari tadi menjadi topic pembicaraan mereka selama Kiki tak ada.
“Ouh… jadi ceritanya, Razi lagi PDKT sama cewek. Terus gimana?” Kiki tampak antusias.
“Ya itu dia permasalahannya, Razi nggak tau, gimana cara ngedeketinnya.”
“Hmm…” Kiki tampak berfikir.
“Tapi Razi mau nya nyatainnya secara langsung, tanpa harus ada PDKT.”
“Ada tiga jenis cewek, satu, cewek yang memang suka secara terang-teranggan, ada yang suka secara proses, dan yang ke tiga, dua-dua nya bisa terima. Nah, sekarang kalau memang Razi ingin dekatin cewek, ‘baca’ dulu cewek itu seperti apa.” Ujar Kiki sambil tersenyum tipis.
“Gimana cara ngebaca nya, kalau jarang ketemu,”
“Lho, Razi nggak pernah jumpa sama cewek nya?”
“Pernah, tapi cuma sekali.. Dan Razi mau mengatakan secara langsung, kalau dia suka sama cewek itu. Kiki bisa baca orang dari wajah nya?” Tanya Haris sambil mengambil HP milik Razi,
Razi sempat menahan Haris agar tidak macam-macam dengan HP nya, namun setelah Haris mengatakan bahwa Kiki adalah keluarga dalam komunitas, maka Razi mengizinkan sahabatnya itu memperlihatkan foto cewek yang disukainya pada Kiki. Kiki sendiri menghampiri Haris dengan sedikit antusias, dan itu membuat Razi mengatakan, “Semangat banget si Kiki kalau masalah ini.” Katanya diiringi tawa.
“Mau di ketok sekali kepalanya, ya.” Kali ini Haris menimpali sambil tertawa.
Kiki hanya bisa nyengir, sebelum akhirnya mengatakan bahwa dirinya termasuk salah satu orang yang sering di temui, saat teman-temannya yang lain sedang mengalami masalah tentang cinta, namun, Hari dan Razi kompak mengatakan bahwa itu bukan tentang cinta, tapi tentang hati.
“Sama aja, kaleees.” Kata Kiki sedikit kesal, namun ia masih juga tersenyum.
“Ini cewek nya.” Akhir nya Haris memperlihat kan foto si cewek ke Kiki.
Kiki mulai memperhatikan wajah si cewek, sedangkan Haris memberikan sedikit trik buat Razi agar ia bisa mendekati cewek yang di sukai nya.
“Kau harus lebih pandai dalam mencari pembahasan, jangan sampai hanya terputus begitu cepat, contoh, kalau kamu komen foto nya, cantik, terus dia balas, makasih, udah, berhenti sampai di situ.”
“Harus berkesinambungan, Zi.” Kiki menambahkan.
“Bahasa si Kiki, memang luar biasa.” Kata Haris sebelum akhirnya tertawa, Razi hanya tersenyum dan Kiki acuh.
“Oke, kembali ke permasalahan, kau harus sering bertanya tentang kegiatannya, apa yang dia suka, di mulai dari hobby nya. Kau bisa mendekati nya dengan mencari apa yang dia suka, misal nya, dia suka film hindi dan aktornya, Shah rukh khan, kau cari info tentang shah rukh khan, dan film-film terbaru nya, dan saat kau mendapatkannya, kau chat dengannya, dan tawari ia film baru tersebut, dan aku yakin, ia akan suka. Dan saat kau sering memberikannya perhatian secara terus-terusan, saat kau taka da, ia pasti akan bertanya-tanya.”
Haris mengakhiri kata-kata nya sambil tersenyum. Kiki dan Razi ikut tersenyum..
“Tapi, aku kurang bisa berkomunikasi dengan cewek yang aku suka. Misal nya saja, dia melewati jalan di depan Museum dan kau memintanya bergabung, aku langsung berfikir, apa yang akan aku bicarakan dengannya, bisa jadi aku akan duduk di sudut sambil sesekali nyengir, angguk-anggukkan kepala dan tersenyum ke arah nya.” Kata Razi sambil memperagakannya.
Haris dan Kiki tertawa ringan menanggapinya. Mau tak mau, Razi pun ikut tertawa.
“Razi persis sama sepertiku dulu, tapi lihat sekarang, aku lebih nyaman dan dekat dengan teman-teman cowokku, dan itu butuh latihan. Jadi, bagimu, Zi, sering-sering aja ngobrol dengan cewek, di jamin, lama-kelamaan, semua kan menjadi lebih mudah.” Kata Kiki sambil kembali memerhatikan foto cewek yang sekarang sedang jadi topic perbincangan mereka.
“Hmm..”
“Jadi kalian nggak mau tahu ni, bagaimana pendapatku, sedari tadi udah merhatiin ni foto.”
“Oia, sekarang, coba dari Kiki.” Kata Haris mempersilahkan Kiki untuk berbicara.
“Dari wajah nya, cewek ini lembut, tapi agak keras.”
“Benar.”
“Tapi dia juga cuek.” Kali ini Haris menanggapi.
Haris yang juga mengenal si cewek mulai bercerita tentang karakter cuek nya saat mereka bertemu di salah satu toko fotocopy, Haris menyapa nya ramah, namun si cewek hanya menatap Haris tanpa ekspresi.
“Dan saat itu juga, aku chat dia, kok sombong kali dek. Gitu aja. Menurutku, kau tak perlu mengejarnya, Zi. Aku takut kau yang tersakiti.” Kata Haris dengan nada sedikit serius.
“Sebenarnya, yang membuatku tak bisa leluasa dan mendekati cewek atau ngobrol sama dia karena di dorong oleh prinsip ku juga, aku tak ingin pacaran. Jadi mau nya, aku langsung mengatakan, ‘Nan, I love you’,” kata Razi sebelum akhirnya tertawa dan kembali membuat Haris dan Kiki ikut tertawa melihat cara Razi berbicara dengan ekspresi nya yang di buat sedemikian rupa.
“’Bagi ku, jatuh cinta itu harus bisa di buktikan secara ilmiah’[1], dan aku yakin, aku belum pernah jatuh cinta sebelumnya.” Kata Kiki tertawa renyah.
“Aku pernah, saat berjumpa dengannya, jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya, dan saat membicarakannya, jantungku berdegup dua kali lipat lebih cepat.” Kata Razi dengan ekspresi setengah menerawang.
Hening sejenak, semilir angina berhembus, membawa sedikit ketenangan bagi mereka yang mulai di sinari mentari siang yang semakin semangat menyinari bumi.
Pembicaraan mereka tetang Razi dan jalan apa yang harus di lakukan untuk PDKT ke cewek yang di sukai nya itu terhenti karena Razi menginformasikan bahwa mereka akan kedatangan tamu dari Gs (Griya Schorzifren), jadi nya Razi pergi untuk membeli beberapa aqua gelas dan beberapa cemilan untuk para tamu yang akan datang.
Acara kunjungan beberapa anggota Gs tersebut membuat Haris, Razi dan Kiki menutup perbincangan mereka yang sempat tertunda. Mereka kembali focus dengan para tamu dan mereka pun saling memperkenalkan komunitas mereka masing-masing.
Jam menunjukkan pukul 17.20 saat Haris dan Razi izin pamit ke Mushalla untuk menunaikan shalat ashar, dan tak berapa lama kemudian, para anggota Gs pun pamit ke Kiki, karena masih ada kegiatan lainnya.
Saat Haris dan Razi kembali dari Mushalla, Kiki berencana untuk pamit terlebih dahulu, namun Haris menyarankan agar Kiki shalat di Mushalla dan kembali lagi untuk melanjutkan perbincangan mereka tentang topic yang sempat tertunda tersebut. Kiki pun menyetujui nya, ia pun pergi ke Mushalla. Selesai Shalat, Kiki kembali dan mendapati ke dua temannya telah memasuki semua buku ke dalam tas berukuran besar, menggulung tikar yang tak lagi diduduki hingga semua nya beres, Razi langsung membaringkan tubuh nya di atas spanduk yang masih menjadi alas kami duduk, dan belum di gulung. Tapi, tak lama kemudian, Razi kembali bangun, karena air aqua yang tak sengaja di tumpahkannya ke atas spanduk tersebut.
“ Sedari tadi aku dengarkan kalian, tapi aku belum juga menemukan jalan keluar untuk masalah ku ini, bagaimana ini.” Kata Razi terlihat kecewa.
“Latihan ngobrol sama cewek, pandai-pandai cari topic pembahasan. Itu bukan jalan keluar nya?”
“Bukan.”
“Kalau memang seperti itu, ya curhat aja semua nya sama Allah, in sya Allah, ada jalan keluar terbaik.” Kata Kiki sambil tersenyum.
“Sang pemilik cinta, ya.” Kali ini Razi ikut tersenyum.
“Yap.”
Drrrt ….. drrrt….. drrrt….
Razi menjawab panggilan di HP nya, setelah mengatakan, ‘Aku di kampus’, Razi terdiam sejenak.
“APA?!” sahut Razi beberapa detik kemuadian.
Ekspresi Razi membuat Kiki dan Haris bertanya-tanya, ada apa?
Setelah Razi menutup teleponnya, ia menceritakan bahwa teman-temannya sedang berkumpul di kampus yang terletak di belakang Museum tersebut untu memeriahkan ualang tahun Ari, salah satu teman karib Razi dan Haris. Ke dua cowok itu pun bergegas membereskan spanduk yang mereka duduki sebelum akhirnya ikut nimbrung dalam acara perayaan tersebut, sedangkan Kiki yang berbeda prodi dengan Razi dan Haris memilih pulang ke rumah nya.

To be continue…

Di tulis oleh Skylover, 19/05/2015, 01.12 AM.




[1] Fahd Djibran, Bondan Prakoso, dkk, Hidup berawal dari Mimpi, (Jakarta Selatan, Kurniaesa Publishing : 2013, hal. 12.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar