Seperti setiap hari Senin sejak
tiga minggu yang lalu, Razi, Haris dan Kiki kembali membuka komunitas mereka-
“Rimba Raya” di depan Museum kampus. Komunitas ini adalah komunitas yang baru
di bentuk dan bertujuan untuk menarik minat baca masyarakat. Karena ini baru
permulaan, jadi mereka hanya menetapkan
satu hari yaitu setiap hari Senin untuk membaca di komunitas mereka yang telah
menyediakan buku-buku yang terdiri dari Novel dan Motivasi.
Tak seperti hari-hari Senin
sebelumnya, Senin kali ini komunitas tersebut sepi, meski ada dua orang
pengunjung dari Sekolah Hamzah Fznsuri yang singgah di komunitas, namun kedua
nya tak bertahan lama, karena ada kepentingan lain yang membuat mereka harus
segera pergi dari komunitas tersebut.
Kini hanya tinggal Haris, Razi
dan Kiki. Ke tiga nya mulai berbincang-bincang tentang ide yang sempat di
utarakan Rahmad-tamu dari SHF, usul tentang sebuah komunitas menulis. Sedang
asyik berbincang, Kiki pamit pergi ke toilet. Sekembalinya Kiki dari toilet, ia
langsung melemparkan pertanyaan kepada dua temannya itu.
“Ada nggak cara untuk membuat
suara menjadi lebih dewasa?” Tanya Kiki sambil duduk di atas spanduk yang
dijadikan sebagai alas untuk duduk di bawah pohon rindang tempat mereka
memamerkan beberapa Novel dan buku Motivasi tersebut.
“Ada, bangun pagi, makan cabe
banyak-banyak,” jawab Razi sambil tertawa ringan, membuat Kiki ikut tertawa dan
mengatakan “Ada pula,”
“Ada ni, makan jeruk nipis
banyak-banyak,” kali ini Haris ikut menjawab sambil tersenyum simpul.
“Ah, serius dong.” Kiki sedikit
kesal namun ia masih tersenyum.
“Ki, kalau ada seseorang yang
komentar tentang DP mu di BBM, gimana?” Tanya Haris tiba-tiba mengganti topic
pembicaraan.
“Biasa aja, Zi, nggak perlu di
komentar.” Kata Haris sambil menepuk ringan bahu Razi.
“Biasa aja?!” Razi mengulang
kata-kata Kiki dengan ekspresi sedikit gemes.
“Gini, kalau ada yang dekat
sama Kiki, terus dia suka komentar DP or PM kamu, gimana?” Haris kembali
bertanya ke Kiki yang terlihat semakin bingung.
Kiki kembali dengan jawaban
yang sama, “Biasa aja.”
“Biasa aja?!” kali ini Razi
mengulang kembali kata-kata Kiki dengan nada yang sedikit lebih tinggi.
“Kenapa, sih?” Tanya Kiki yang
semakin bingung.
“Ki lebih suka di dekatin
secara langsung atau secara PDKT, pendekatan kemudian putus?” pertanyaan Haris
sukses membuat ke tiga nya tertawa lepas.
“Maksud nya?” Tanya Kiki
setelah mereka kembali tenang.
“Maksud nya begini, Kiki lebih
suka cowok yang ngomong suka sama cewek secara terang-terangan atau secara
proses dulu?” kali ini Haris terlihat serius.
“Hmm…nggak tau juga, sih, soal
nya, nggak pernah ada cowok yang PDKT or nembak Kiki secara langsung, tuh.”
Jawab Kiki seadanya.
“Bukan PDKT, apa ya, istilah
lainnya…hmm…” Haris nampak berfikir.
“Kenapa, sih?” Kiki mulai
penasaran, kenapa tiba-tiba topic pembicaraan beralih ke cinta.
“Gini lho, si Razi suka cewek,
tapi nggak tau, gimana cara ngedekatinnya.” Kata Haris mulai membuka apa yang
sedari tadi menjadi topic pembicaraan mereka selama Kiki tak ada.
“Ouh… jadi ceritanya, Razi lagi
PDKT sama cewek. Terus gimana?” Kiki tampak antusias.
“Ya itu dia permasalahannya,
Razi nggak tau, gimana cara ngedeketinnya.”
“Hmm…” Kiki tampak berfikir.
“Tapi Razi mau nya nyatainnya
secara langsung, tanpa harus ada PDKT.”
“Ada tiga jenis cewek, satu,
cewek yang memang suka secara terang-teranggan, ada yang suka secara proses,
dan yang ke tiga, dua-dua nya bisa terima. Nah, sekarang kalau memang Razi
ingin dekatin cewek, ‘baca’ dulu cewek itu seperti apa.” Ujar Kiki sambil
tersenyum tipis.
“Gimana cara ngebaca nya, kalau
jarang ketemu,”
“Lho, Razi nggak pernah jumpa
sama cewek nya?”
“Pernah, tapi cuma sekali.. Dan
Razi mau mengatakan secara langsung, kalau dia suka sama cewek itu. Kiki bisa
baca orang dari wajah nya?” Tanya Haris sambil mengambil HP milik Razi,
Razi sempat menahan Haris agar
tidak macam-macam dengan HP nya, namun setelah Haris mengatakan bahwa Kiki
adalah keluarga dalam komunitas, maka Razi mengizinkan sahabatnya itu
memperlihatkan foto cewek yang disukainya pada Kiki. Kiki sendiri menghampiri
Haris dengan sedikit antusias, dan itu membuat Razi mengatakan, “Semangat
banget si Kiki kalau masalah ini.” Katanya diiringi tawa.
“Mau di ketok sekali kepalanya,
ya.” Kali ini Haris menimpali sambil tertawa.
Kiki hanya bisa nyengir,
sebelum akhirnya mengatakan bahwa dirinya termasuk salah satu orang yang sering
di temui, saat teman-temannya yang lain sedang mengalami masalah tentang cinta,
namun, Hari dan Razi kompak mengatakan bahwa itu bukan tentang cinta, tapi
tentang hati.
“Sama aja, kaleees.” Kata Kiki
sedikit kesal, namun ia masih juga tersenyum.
“Ini cewek nya.” Akhir nya
Haris memperlihat kan foto si cewek ke Kiki.
Kiki mulai memperhatikan wajah
si cewek, sedangkan Haris memberikan sedikit trik buat Razi agar ia bisa
mendekati cewek yang di sukai nya.
“Kau harus lebih pandai dalam
mencari pembahasan, jangan sampai hanya terputus begitu cepat, contoh, kalau
kamu komen foto nya, cantik, terus dia balas, makasih, udah, berhenti sampai di
situ.”
“Harus berkesinambungan, Zi.”
Kiki menambahkan.
“Bahasa si Kiki, memang luar
biasa.” Kata Haris sebelum akhirnya tertawa, Razi hanya tersenyum dan Kiki
acuh.
“Oke, kembali ke permasalahan,
kau harus sering bertanya tentang kegiatannya, apa yang dia suka, di mulai dari
hobby nya. Kau bisa mendekati nya dengan mencari apa yang dia suka, misal nya,
dia suka film hindi dan aktornya, Shah rukh khan, kau cari info tentang shah
rukh khan, dan film-film terbaru nya, dan saat kau mendapatkannya, kau chat
dengannya, dan tawari ia film baru tersebut, dan aku yakin, ia akan suka. Dan
saat kau sering memberikannya perhatian secara terus-terusan, saat kau taka da,
ia pasti akan bertanya-tanya.”
Haris mengakhiri kata-kata nya
sambil tersenyum. Kiki dan Razi ikut tersenyum..
“Tapi, aku kurang bisa
berkomunikasi dengan cewek yang aku suka. Misal nya saja, dia melewati jalan di
depan Museum dan kau memintanya bergabung, aku langsung berfikir, apa yang akan
aku bicarakan dengannya, bisa jadi aku akan duduk di sudut sambil sesekali
nyengir, angguk-anggukkan kepala dan tersenyum ke arah nya.” Kata Razi sambil
memperagakannya.
Haris dan Kiki tertawa ringan
menanggapinya. Mau tak mau, Razi pun ikut tertawa.
“Razi persis sama sepertiku
dulu, tapi lihat sekarang, aku lebih nyaman dan dekat dengan teman-teman
cowokku, dan itu butuh latihan. Jadi, bagimu, Zi, sering-sering aja ngobrol
dengan cewek, di jamin, lama-kelamaan, semua kan menjadi lebih mudah.” Kata
Kiki sambil kembali memerhatikan foto cewek yang sekarang sedang jadi topic
perbincangan mereka.
“Hmm..”
“Jadi kalian nggak mau tahu ni,
bagaimana pendapatku, sedari tadi udah merhatiin ni foto.”
“Oia, sekarang, coba dari
Kiki.” Kata Haris mempersilahkan Kiki untuk berbicara.
“Dari wajah nya, cewek ini
lembut, tapi agak keras.”
“Benar.”
“Tapi dia juga cuek.” Kali ini
Haris menanggapi.
Haris yang juga mengenal si
cewek mulai bercerita tentang karakter cuek nya saat mereka bertemu di salah
satu toko fotocopy, Haris menyapa nya ramah, namun si cewek hanya menatap Haris
tanpa ekspresi.
“Dan saat itu juga, aku chat
dia, kok sombong kali dek. Gitu aja. Menurutku, kau tak perlu mengejarnya, Zi.
Aku takut kau yang tersakiti.” Kata Haris dengan nada sedikit serius.
“Sebenarnya, yang membuatku tak
bisa leluasa dan mendekati cewek atau ngobrol sama dia karena di dorong oleh
prinsip ku juga, aku tak ingin pacaran. Jadi mau nya, aku langsung mengatakan,
‘Nan, I love you’,” kata Razi sebelum akhirnya tertawa dan kembali membuat
Haris dan Kiki ikut tertawa melihat cara Razi berbicara dengan ekspresi nya
yang di buat sedemikian rupa.
“’Bagi ku, jatuh cinta itu
harus bisa di buktikan secara ilmiah’[1], dan aku yakin, aku belum
pernah jatuh cinta sebelumnya.” Kata Kiki tertawa renyah.
“Aku pernah, saat berjumpa
dengannya, jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya, dan saat
membicarakannya, jantungku berdegup dua kali lipat lebih cepat.” Kata Razi
dengan ekspresi setengah menerawang.
Hening sejenak, semilir angina
berhembus, membawa sedikit ketenangan bagi mereka yang mulai di sinari mentari
siang yang semakin semangat menyinari bumi.
Pembicaraan mereka tetang Razi
dan jalan apa yang harus di lakukan untuk PDKT ke cewek yang di sukai nya itu
terhenti karena Razi menginformasikan bahwa mereka akan kedatangan tamu dari Gs
(Griya Schorzifren), jadi nya Razi pergi untuk membeli beberapa aqua gelas dan
beberapa cemilan untuk para tamu yang akan datang.
Acara kunjungan beberapa
anggota Gs tersebut membuat Haris, Razi dan Kiki menutup perbincangan mereka
yang sempat tertunda. Mereka kembali focus dengan para tamu dan mereka pun
saling memperkenalkan komunitas mereka masing-masing.
Jam menunjukkan pukul 17.20
saat Haris dan Razi izin pamit ke Mushalla untuk menunaikan shalat ashar, dan
tak berapa lama kemudian, para anggota Gs pun pamit ke Kiki, karena masih ada
kegiatan lainnya.
Saat Haris dan Razi kembali
dari Mushalla, Kiki berencana untuk pamit terlebih dahulu, namun Haris
menyarankan agar Kiki shalat di Mushalla dan kembali lagi untuk melanjutkan
perbincangan mereka tentang topic yang sempat tertunda tersebut. Kiki pun
menyetujui nya, ia pun pergi ke Mushalla. Selesai Shalat, Kiki kembali dan
mendapati ke dua temannya telah memasuki semua buku ke dalam tas berukuran
besar, menggulung tikar yang tak lagi diduduki hingga semua nya beres, Razi
langsung membaringkan tubuh nya di atas spanduk yang masih menjadi alas kami duduk,
dan belum di gulung. Tapi, tak lama kemudian, Razi kembali bangun, karena air
aqua yang tak sengaja di tumpahkannya ke atas spanduk tersebut.
“ Sedari tadi aku dengarkan
kalian, tapi aku belum juga menemukan jalan keluar untuk masalah ku ini,
bagaimana ini.” Kata Razi terlihat kecewa.
“Latihan ngobrol sama cewek,
pandai-pandai cari topic pembahasan. Itu bukan jalan keluar nya?”
“Bukan.”
“Kalau memang seperti itu, ya
curhat aja semua nya sama Allah, in sya Allah, ada jalan keluar terbaik.” Kata
Kiki sambil tersenyum.
“Sang pemilik cinta, ya.” Kali
ini Razi ikut tersenyum.
“Yap.”
Drrrt ….. drrrt….. drrrt….
Razi menjawab panggilan di HP
nya, setelah mengatakan, ‘Aku di kampus’, Razi terdiam sejenak.
“APA?!” sahut Razi beberapa
detik kemuadian.
Ekspresi Razi membuat Kiki dan
Haris bertanya-tanya, ada apa?
Setelah Razi menutup
teleponnya, ia menceritakan bahwa teman-temannya sedang berkumpul di kampus
yang terletak di belakang Museum tersebut untu memeriahkan ualang tahun Ari,
salah satu teman karib Razi dan Haris. Ke dua cowok itu pun bergegas
membereskan spanduk yang mereka duduki sebelum akhirnya ikut nimbrung dalam
acara perayaan tersebut, sedangkan Kiki yang berbeda prodi dengan Razi dan
Haris memilih pulang ke rumah nya.
To be continue…
Di
tulis oleh Skylover, 19/05/2015, 01.12 AM.
[1]
Fahd Djibran, Bondan Prakoso, dkk, Hidup berawal dari Mimpi, (Jakarta
Selatan, Kurniaesa Publishing : 2013, hal. 12.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar