Kamis, 21 Mei 2015

Aku & Para Inspirator



   Berangkat dari rumah pukul 13.30 WIB, dan aku mermarkirkan hondaku di parkiran gedung Sultan Selim II tepat pukul 14.30 WIB, kalau diperhitungkan, jarak dari rumahku ke genung ini, hanya menghabiskan 15 menit perjalanan, namun, karena aku lupa di mana gedung megah ini berada, akhirnya aku menemukannya saat aku hampir putus asa mencari dimana letak gedung indah ini.
Aku dan temamku, Ratna berjanji akan berangkat bersama ke gedung ini untuk menghadiri Seminar dan Peluncuran buku yang di adakan di lantai II gedung ini, namun karena satu dan dua hal, ia tak bisa berangkat bersamaku, aku sempat bertanya padanya, “Dimana letak gedung Sultan Selim II?” kataku saat teleponku tersambung dengannya, “Di belakang taman Putroe Phang.” Jawabnya cepat. Dan aku mulai mencari gedung itu, hingga aku sempat tiga kali putar-putar di jalan seputaran taman Putroe Phang itu. Saat aku hampir putus asa, aku menemukan Gapura bertuliskan nama Sultan Selim II tepat di depan taman Putroe Phang, dan dengan senyum semeringah, aku memasuki kawasan gedung tersebut.
Setelah parkir, aku langsung menuju ke lantai dua, dan ternyata seminar nya sedang berlangsung. Dengan cepat aku menulis namaku di buku tamu, kemudian mereka memberiku secarik kertas bertuliskan angka 74, aku sempat bertanya pada panitia, apa mereka menyediakan buku yang akan diluncurkan untuk di jual, namun mereka menerangkan bahwa secarik kertas itu yang akan membuatku memiliki buku yang akan diluncurkan itu secara gratis, dalam hati aku bersyukur.  suasana sepi menyelimuti ruangan berAC itu.
Setelah regristrasi, aku langsung memasuki ruangan berAC itu. Aku memilih duduk di deretan atas sebelah kiri, tempat yang masih sangat kosong. Sebelumnya, saat aku memasuki ruangan ini, aku melihat guru sekaligus pendiri Sekolah Hamzah Fansuri, bang Thayeb, duduk di kursi bawah paling depan. Sebenarnya hari ini kami para siswa Sekolah Hamzah Fansuri memiliki jadwa belajar hari ini, pada jam 15.00 WIB.
Namun, karena adanya acara seminar dan peluncuran buku tersebut, aku pun memilih mengikuti acara ini terlebih dahulu, sebelum pembelajaran dimulai. Dalam dudukku sambil memperhatikan pemateri yang bernama bapak Muhammad Fauzan Azim Syah itu, aku juga memperhatikan gerak guruku tersebut, jika beliau keluar tepat jam 3, aku pun akan keluar dari ruangan ini, agar aku tak ketinggalan pelajaran, pikirku.
Dalam materi yang di sampaikan oleh pak Fauzan tersebut menjelaskan sejarah singkat tentang pembangunan gedung ACC Sultan Selim II tersebut. “Gedung ini dapat digunakan oleh masyarakat dan terbuka untuk siapa saja,” ujar pak Fauzan. Para hadirin tampak menyimak dengan khidmat.
Direktur gedung ACC Sultan Selim II tersebut juga menerangkan bahwa, dalam kepemimpinan harus bisa menghormati orang lain, untuk menciptakan tim kerja yang tak perlu di pantau, dan menyeleksi tim kerja yang sesuai dengan bidangnya, serta mereka menyukai apa yang dikerjakan.
Di sela-sela apa yang di sampaikannya, Ratna, temanku datang dan duduk di sampingku. Tak berapa lama kemudian, ku perhatikan guruku telah keluar ruangan, dan dengan cepat, aku pun ikut keluar ruangan. Tapi, saat ingin menuruni tangga, aku berpas-pasan dengan beliau, aku bertanya, gimana dengan sekolah, kapan kita mulai belajar, beliau dengan tenang menjawab, “Kita ikuti acara ini dulu sebentar, kemudian kita baru mulai belajar.”
Aku pun mulai bingung juga malu, tadi dengan sedikit terburu, aku keluar dari ruangan itu dengan meninggalkan temanku sendirian, sekarang, aku harus masuk kembali. Aku fikir, lebih baik aku menunggu temanku yang katanya tadi sedang dalam perjalanan menuju gedung ini.
Tak berapa lama kemudian, ia pun hadir, dan dengan ramah aku tersenyum padanya sambil berkata, “Yang lain pada kemana, Mad?”, dengan santai, Rahmad menjawab, “Tadi aku ke Keudah dan dari sana aku langsung ke sini, jadi kami tidak barengan,” sambil tersenyum aku menambahkan, “Biasanya 4 serangkai nggak pernah pisah.” Ia hanya tersenyum menanggapi kata-kataku itu. 4 serangkai yang tak lain juga siswa Sekolah Hamzah Fansuri yaitu terdiri dari Rahmad, Kautsar, Nazar dan Reza.
Aku mulai kembali masuk ke ruangan, dan dia menyusulku, namun, kami duduk terpisah. Aku mulai kembali memperhatikan pemateri yang ternyata sudah berganti orang, kalau yang tadinya berbicara adalah pak Muhammad Fauzan Azim Syah, kini yang berbicara adalah seorang narasumber pemilik kedai Taufik Kupi Banda Aceh yang tak pernah sepi.
Menurut beliau, kita hidup harus berusaha, dan berpendidikan sederhana dengan S5 (Salam, senyum, sapa, sopan, dan santun). “Bekal utama kepemimpinan adalah kejujuran, sehat dan tenaga, serta salam, senyum, sapa, sopan, dan santun, atau S5,” kata pak Taufik. Tak lama kemudian, narasumber yang ke tiga ambil bagian.
Bapak Nahar Aba Hakeem menerangkan bahwa kepemimpinan adalah seorang yang berani mengambil tanggung jawab yang lebih atas orang lain. Dan dalam kepemimpinan juga butuh rasa empati, “Rasa empati terhadap orang lain juga sangat di butuhkan. Jangan menilai orang lain, sebelum merasakan apa yang mereka rasakan. Itu lah rasa empati.” Kata bapak pengamat sukarelawan dan kepemimpinan ini.
Saat narasumber ke tiga berbicara, Kautsar, Nazar dan Reza memasuki ruangan ini, dan mereka duduk terpisah, meskipun terlambat, namun mereka masih bisa menerima sedikit materi yang sempat di utarakan narasumber ke tiga tentang kepemimpinan dan sukarelawan.
Setelah ke tiga narasumber mengakhiri materinya, kini beralih ke sesi tanya-jawab. Ada tiga penanya yang bertanya tiga hal yang berbeda, mulai dari Zia anak biologi Unsyiah yang bertanya bagaimana mengahadapi tim kerja yang dalam bekerja tidak lagi mengerjakan hal yang telah di sepakati, dan pertanyaan tersebut ditanggapi pak Fauzan dengan mengatakan agar bisa bersikap tegas terhadap mereka. Hingga pertanyaan yang di tujukan kepada pak Taufik, bagaimana system dalam menjalankan kedai Taufik Kupi yang terlihat selalu ramai dengan pengunjung, dan pak Taufik menjawab bahwa, beliau hidup dengan S5 dan konsep hidup dengan apa yang sudah diberikan oleh Allah SWT. dan menjalaninya dengan baik.
Setelah sesi Tanya-jawab, Juanda Jamal sebagai pemandu acara menutup seson seminar tersebut, dan kemudian membuka seson peluncuran buku Istanbul warna ibukota dunia. Acara selanjutnya di pandu oleh salah satu Mc yang langsung mengambil alih panggung. Dengan sopan, Mc menyapa para hadirin sebelum akhirnya memanggil salah seorang dosen yang hadir dalam acara tersebut, Sulaiman Tripa, beliau menerangkan bahwa, “Buku ini menarik karena wartawan foto yang menulis, ini saya kira luar biasa, karena orang foto saja bisa menulis sebuah buku, apalagi jika wartawan tulis.” Ujar pak Sulaiman.
Mc kemudian memanggil sang wartawan foto yang telah berhasil menulis sebuah buku tersebut untuk naik ke atas panggung. Ariful Azmi Usman mengatakan bahwa ia  hanya sebulan di Turki, dan ia mulai menulis setelah kepulangannya ke Aceh, proses penulisan berlangsung dalam 3 bulan. Pemuda ini tidak takut menulis karena dengan menulis ia bisa merasa hidup 1000 tahun lagi. Siapa pun bisa menulis, jika ia mau. Pemuda yang kuliah di Unsyiah tersebut juga menegaskan bahwa, buku yang ditulisnya tidak di jual, jadi akan di bagikan secara gratis.
Peluncuran buku dilakukan secara simbolis hanya sekedar tanda tangan para pendukung besar serta panitia pelaksana acara. Acara kemudian di tutup setelah Mc mengabarkan bahwa buku akan di bagikan secara gratis bagi yang mendapat kupon saat registrasi.
Ke dua seson acara yang berlangsung pada Selasa (19/05/2015) sejak pukul 14.00 s/d selesai tersebut menjadi inspirasi tersendiri bagi kami siswa Sekolah Hamzah Fansuri serta para hadirin, baik itu tentang kepemimpinan, sukarelawan maupun tentang kepenulisan.

***

Setelah acara berakhir, aku bersama Ratna mengantri untuk mengambil buku Istanbul tersebut, setelah itu, aku yang akan mengikuti belajar kembali ke ruangan, sedangkan Ratna memilih untuk pulang. Saat aku kembali, aku mendekati ke empat pria teman sekolahku, saat hampir mendekati mereka, Rahmad mendekatiku dan langsung mengambil buku Istanbul dari tanganku dan membuka sampulnya, “Minta tanda tangan penulisnya langsung.” Katanya yang didukung anggukan dari teman-teman lainnya.  “Ok.”
Bergegas aku menuju kerumunan orang yang sedang mengerumuni sang penulis, cukup lama aku mengantri, sehingga aku tak menyadari bahwa ke empat teman-temanku telah keluar dari ruangan. Setelah bukuku di tanda-tangani, aku pun langsung keluar ruangan dan mendapati Nazar dan Reza sedang memandangi jalan di bawah melalui jendela kaca yang terletak di pertengahan tangga.
“Yang lain, kemana?” tanyaku sambil menuruni tangga.
“Shalat dulu, kata bg Muhajir,” jawab Nazar dan Reza barengan.
Ke dua nya menuju keluar gedung, sedangkan aku memilih shalat ashar di mushalla kecil yang terletak di bawah tangga. Setelah shalat, aku langsung ke luar dari gedung dan kudapati Kautsar dan Rahmad datang mendekati gedung.
“Mereka kemana?” Tanya Kautsar padaku.
Kami terus berjalan masuk kembali ke gedung, “Katanya mereka shalat dulu di mushalla.”
Kami ber tiga duduk di salah satu sofa di lantai satu gedung tersebut. Kami menunggu Nazar dan Reza. Hingga akhirnya, Rahmad membaca bbm dari Nazar mengatakan bahwa mereka sedang di kantin yang berada di samping gedung ini. Kami pun beranjak menuju kantin.
Di bawa sebuah pohon mangga yang terletak di samping kantin tersebut, telah duduk bang Thayeb guru kami, bangg Muhajir ketua kelas kami, dan tiga bapak-bapak yang belum kami kenal. Di arah lain, kami melihat Nazar dan Reza, namun dalam sekejab, mereka pun ikut mendekati tempat duduk dimana guru kami duduk. Setelah kami mendekat, dan bergabung duduk bersama mereka, guru kami pun langsung memperkenalkan ke tiga bapak-bapak tersebut.
“Yang ini adalah bapak  Sulaiman Tripa, yang ini pak Sulaiman Juned, dan yang ini pak Saiful Bahri, mereka adalah penulis Aceh tempo dulu.” Ujar bg Thayeb memperkenalkan para penulis senior tersebut.
Denagn kagum kami menanggapi perkenalan itu. Bg Thayeb menambahkan bahwa, kesempatan kali ini adalah kesempatan yang langka, karena bisa mengumpulkan ke tiga penulis senior Aceh dalam satu pertemuan.
Setelah perkenalan itu, kami pun mendengar penuturan dari para senior tersebut tentang pengalaman mereka dalam menulis, tips yang harus dilakukan sebagai penulis dan sedikit sejarah tentang Hamzah Fansuri dan Adat Hukum Laut di Aceh.
Pak Sulaiman Tripa menerangkan bahwa dalam menulis, kita harus bisa menilai diri kita sendiri, semana kemampuan menulis kita, jangan sampai kita melewati batas kemampuan kita dalam menulis, jika kita hanya bisa menulis cerpen, mengapa harus memaksakan diri menulis novel, hanya karena seorang artis yang berhasil menulis novel. Dalam menulis, kita juga harus focus, kemana kemampuan kita menulis, maka fokuskan tulisan kita di sana. Jika kita lebih bisa menulis sebuah nove, maka focus tulisan kita di novel, meskipun saat dimintai menulis hal yang lain, kita tetap mampu.
Pak Sulaiman Juned menambahkan tentang tips dalam menulis, saat kita menulis, kita harus melakukan 4 hal, yaitu, membaca, menyimak, berbicara, dan menulis. “Membaca bukan hanya membaca buku, namun juga membaca alam sekitar, membaca situasi, dan membaca banyak hal. Karena kita mendefinisikan membaca hanya dengan membaca buku, maka sekarang kita mendefinisikannya sebagai membaca banyak hal. Setelah membaca, kita akan bisa menyimak, karena membaca bisa membuat kita menjadi penyimak yang baik, setelah bisa menyimak dengan baik, maka kita pun akan bisa berbicara dengan baik, begitu pun dengan menulis, kita pun akan bisa menulis dengan lebih baik,” ujar pak Sulaiman Juned dengan semangat.
Sementara pak Saiful Bahri juga mengatakan bahwa bagi beliau, membaca yang terpenting adalah membaca buku, karena buku adalah bacaan yang tertulis, dan bisa di pahami, namun, membaca yang lain juga jangan di lupakan.
Setelah penerangan beberapa hal dalam menulis, mereka dengan kompak menceritakan bagaimana kehidupan mereka tempo dulu. Mereka jika ingin membaca, maka mereka harus membeli buku, tidak seperti sekarang, melalui media online kita sudah bisa mendapatkan apa yang ingin kita baca.
“Dulu kami waktu ingin baca buku, harus beli dulu bukunya, kalau sekarang, sangat mudah dengan media online, semestinya sekarang penulisnya harus lebih berkualitas di bandingkan dengan kami,” kata pak Sulaiman Juned yang di tanggapi anggukan setuju dari pak Saiful Bahri dan pak Sulaiman Tripa.
Diskusi menarik ini terus berlanjut hingga masuk ke topik sejarah tentang sosok Hamzah Fansuri, pak Sulaiman Tripa menerangkan bahwa karya Hamzah Fansuri dianggap sebagai karya memunculkan bahasa melayu. Bahasa melayu berawal dari Aceh, dan yang mencetuskannya adalah Hamzah Fansuri. Kemudian topic tentang hokum laut yang di jelaskan oleh pak Sulaiman Tripa. Beliau menerangkan bahwa hokum laot yang beliau baca dari manunskrip sangat berbeda dengan hokum laut sekarang ini. Karena kalau dalam perundang-undangan, hokum nya sudah terpilah-pilah.
“Hukum perikanan berbeda dengan hokum mariner, dan seterusnya, kalau dulu, hokum laut itu semua menyatu,” ujar pak Sulaiman Tripa sebelum pamit terlebih dahulu karena ada janji.
Selepas ke tiga senior undur diri, siswa Sekolah Hamzah Fansuri dan juga siswa tamu dari sebuah komunitas Griya Schizofren, Zia dan Yelly, yang ikut hadir saat sedang berlangsungnya diskusi pun kembali berdiskusi, kali ini hanya guru penulis kami, bg Thayeb, dan kami siswa nya, serta dua siswa tamu. Selepas diskusi dan pemberian tugas oleh guru pembina, dua siswa tamu tersebut kemudian meminta izin untuk menerangkan apa itu komunitas Griya Schizofren tersebut.
Mereka menerangkan bahwa, komunitas tersebut adalah komunitas yang berasal dari Solo, dan ini bisa di bilang cabang di Aceh, mereka bertujuan untuk membantu orang-orang yang ada di rumah sakit jiwa. Setelah para pasien keluar dari rumah sakit jiwa, mereka bisa berkarya sendiri, dan bisa bekerja dengan masyarakat, bisa kembali menyatukan diri dengan masyarakat. Di akhir keterangan, mereka meminta kepada guru Pembina kami agar bersedia membantu mereka agar mampu menulis, karena mereka bertujuan untuk membuat satu buku tentang para orang gila tersebut.
“Saya minta waktu tempo kapan pengiriman naskah terakhir dan kalau bisa cari orang-orang yang suka menulis, cerdas, dan juga menjaga stamina.” Kata bang Thayeb sambil tersenyum tipis.
Setelah jawaban itu, karena waktu hampir menunju Magrib, kami pun bubar.

The End
Banda Aceh, 22/05/2015

Di tulis oleh Fira Zakia sebagai tugas dari Sekolah Hamzah Fansuri 









Tidak ada komentar:

Posting Komentar