Senin, 18 Mei 2015

PENCURI



Kriingg,,kriingg,,kriiing,,
Tepat pukul 05.15 WIB jam beker dalam kamar Amat berdering, memecah kesunyian. Amat menyingkap selimutnya, mengocek matanya yang masih kotor, dan sedikit menggerakkan anggota tubuhnya ke kanan dan kiri untuk meregangkan sendi-sendi otot tubuhnya. Tak lama kemudian, ia beranjak dari tempat tidurnya yang masih berserakan, ia menuju kamar mandi berdinding pohon rumbia yang berada dibelakang rumahnya. Amat mengambil air whuduk untuk menunaikan kewajiban sebagai seorang Mukmin. Tak berapa lama kemudian, Amat larut dalam shalat nya.
Selepas shalat, Amat bergegas melepas sarung yang masih melekat dipinggangnya, menggantinya dengan celana dan menukar baju shalatnya dengan baju lengan panjang yang sudah kecoklatan karena hampir tiap hari di kenakan nya setiap kali ia sedang memotong pisang di kebun nya, hingga baju tersebut terkena cipratan getah pisang dan membuat baju nya berubah warna.
“Mat, bergegas lah ke kebun, mungkin durian ada yang jatuh, kalau kamu terlambat,  nanti durian nya bisa diambil orang,” ujar neneknya yang sedang memanaskan kuah asam keu’eung[1] didapur.
“Iya nek, aku akan ke kebun, sekarang,” jawab Amat yang langsung keluar dari rumah nya.
Udara masih sejuk, ujung rumput dan ilalang masih menampung butiran embun yang sedang menunggu jemputan cahaya pagi.  Ayam masih saling berkokok satu sama lain. Amat melangkahkan kakinya dijalan yang berbatuan, sesekali apabila sandal jepangnya bergeser posisi, maka tapak kaki kasarnya langsung kena jalan yg berbatu, “Duhh, sakit juga,” keluhnya setiap tapak kakinya meginjak batu-batu runcing di jalanan itu.
Memang jalan ini sudah lama tidak teraspal, sepertinya pemerintah tak mau tau dengan keadaan jalanan di pedesaan ini. Dulu ketika Pak Ramli - salah satu calon legislative DPRK -  berkampanye  demi mendapat satu kursi empuk di DPRK, ia berjanji apabila terpilih akan memperbaiki jalanan yang ada di pedesaan-pedesaan setempat agar warga desa mudah mengangkut hasil panen sawah dan kebun ke pasar. Namun, setelah beliau memperoleh kursi di DPRK, semua janjinya tak di jalankan. Janji tinggal lah janji, hingga sekarang, jalanan di pedesaan setempat, masih seperti semula, taka da perubahan sedikit pun. Bahkan, setelah pak Ramli menduduki rumah dinas DPRK, ia tak pernah menampakkan dirinya lagi di desa tersebut.
“Wakil rakyat atau penipu rakyat,” desah Amat kesal mengingat semua janji tersebut.

***

Amat sampai di kebun durian, ia menuju rangkang yang ada dipojok kebun,  tak jauh dari pohon durian. Ia memeriksa ketapel yang ia simpan di sangkutan paku sebelah kanan dinding rangkang. Ketapel masih ada, namun kerikil yang menjadi peluru ketapel itu sudah habis. Ia perlu berjalan ke sudut jalan untuk mencari kerikil-kerikil sebagai peluru ketapel guna menumpas tupai-tupai yang telah menikmati sebagian durian yang ada dipohon. Tupai lebih tau mana durian yang sudah matang untuk disantap. Sedangkan Amat harus menunggu dulu sampai durian itu jatuh lepas dari tangkainya, barulah ia bisa memastikan durian itu matang.
Tak berlama-lama mengutip peluru kerikil, ia kembali ke rangkang untuk menaruh peluru batu itu di atas rangkang. Lalu ia menuju ke bawah pohon untuk mengecek apakah ada durian yang jatuh untuk di bawa pulang. Semalam, Amat telah berjanji sama neneknya, apabila hari ini ada durian yang jatuh, ia meminta neneknya untuk memasak bulukat durian. Krena, setelah ibunya meninggal dua tahun yang lalu, Amat tak pernah lagi merasakan kelezatan bulukat durian.
“Ah, tak ada satu pun durian yang jatuh. Tak bisa makan bulukat durian lagi,” gerutu hati Amat setelah mendapati halaman duriannya kosong, tak ada satu pun durian yang jatuh.
Amat menenagkan hati nya, jika hari ini tak di dapatinya durian jatuh, masih ada hari esok dan lusa, semoga, pintanya. Lagi pun, durian masih banyak bergelantung di atas pohon. Walaupun sebagiannya sudah di makan tupai, namun selebihnya masih bagus. Amat kembali ke rangkang, mengambil peluru batu yang ia letakkan di atas rangkang tadi, kemudian bersiap untuk berjaga-jaga agar Tupai tak memakan sisa buah durian yang masih bagus.
Matahari yang tadi seolah mengintip di sebalik gunung, kini beranjak keluar dari persembunyiannya. Itu tandanya, tupai-tupai akan segera menuju pepohonan untuk mencari makanan. Dan pohon durian pun menjadi sasaran empuk makhluk tak berakal itu. Amat telah siap dengan senjatanya untuk menumpas makhluk pemakan buah-buahan itu. Ia membidik Tupai yang mulai nampak akan memakan satu durian yang masih bagus di atas pohon, tak ada yang mengenai sasaran. Amat terus saja membidik senjatanya, hanya beberapa saat ia bisa menembak dan mengenai beberapa Tupai di pohon durian. Sebenarnya, Amat sangat lihai menembak dengan ketapel. Selain menembak Tupai, kadang ia juga bisa menembak burung-burung yang sesekali berpapasan dengannya sewaktu di kebun. Pernah saat siang. ketika ia sedang beristirahat dirangkang setelah membersihkan ilalang dikembunnya, sepasang Pipit berdiri di pohon Kedondong yang tak jauh dari rangkang, ia serta merta membidik salah satu Pipit itu dengan ketapelnya, dengan sekali tembak ia langsung mengenai sayap kiri Pipit itu, burung yang malang itu pun jatuh tersungkur dan Pipit yang  satunya lagi terbang ntah kemana arahnya. Dan kali ini  pun Amat terlalu jitu dalam membidik.
Amat berfikir mencukupkan diri untuk membidik si tukang loncat. Lehernya mulai pegal karena dari tadi kepalanya mengadah ke pohon. Untuk hari ini ia telah menembak mati sepuluh Tupai, jumlah yang besar dibandingkan hari-hari sebelumnya. Lalu ia istirahat di rangkang, sesekali ia menarik tali yang ia sambung keatas pohon durian, di ujung sana ia ikat beberapa kaleng susu yang didalamnya ia taruh beberapa kerikil untuk membuat suara kaleng lebih nyaring. Apabila talinya di tarik, maka kaleng yang tersambung dengan tali tersebut akan mengeluarkan suara yang membuat Tupai lari tunggang langgang dan ada juga yang loncat jauh ke pohon kelapa sebelahnya. Ini salah satu cara efektif yang Amat lakukan untuk  mengusir Tupai apabila ia sudah lelah membidik tupai itu dengan ketapel.
“Hai, Mat, sudah lama kau di sni?”  tiba-tiba Udin datang dari balik rangkang Amat.
“Ah kau, Din, membuatku kaget saja. Aku ke sini selepas shalat subuh tadi," sahut Amat sambil mengelus dadanya yang sempat kaget.
Udin kawan sekampung Amat.  Udin juga ada kebun durian disebelah selatan kebun durian Amat, kebun mereka berseblahan, tepatnya. Semalam, Udin menginap di jambo kebunnya untuk berjaga-jaga agar tidak ada orang lain yang mengambil durian yang jatuh. Dan itu biasa dilakukan Udin ketika durian memasuki masa-masa panen. Namun Amat tidak melakukan hal yang sama, ini dikarenakan ia tak tega meninggalkan neneknya seorang diri di rumah. Kalau terjadi sesuatu terhadap neneknya, tidak ada yang tau.
 “Kau belum pulang, Din? Berapa durian yang jatuh hari ini?” tanya Amat sambil duduk bersandar di dinding rangkangnya.
“Tadinya aku mau pulang, Mat, tapi aku lihat kau ada di rangkang, aku kesini dulu. Hari ini sedikit hanya sedikit yang aku dapat, ada 20 buah tapi 5 buah sudah dimakan Tupai,” jawab Udin sedikit kecewa.
“Iya, Din, dari hari ke hari sepertinya Tupai terus bertambah, ntah dari mana datangnya. Terlebih di kebunku, sudah taka da durian yang jatuh, malah durian yang makan Tupai yang ada,” ujar Amat dengan tatapan sendu.
“Jadi,  hari ini tidak ada durian yang jatuh?” Tanya udin.
Amat hanya mengangguk, membenarkan pertanyaan Udin.
“Mat, aku mau ngomong sesuatu padamu.” Udin berkata dengan nada serius.
Amat menatap Udin penasaran.
 “Gini, Mat. Hari ini bukannya durian dikebunmu tidak jatuh. Tapi sebelum kau datang kesini, durian di bawah pohon sudah duluan diambil oleh yahwa[2] Min.” kata udin dengan mimik serius.
“Ah kau yang benar saja, Din, jangat memfitnah yahwa Min,” Bantah Amat yang belum percaya.
“Benar, Mat, aku tadi mengintip di balik dinding sumur kebunku ketika sedang mengambil air whuduk. Yahwa Min yang mengambil durian dikebunmu, aku melihat dengan mataku sendiri” kata udin untuk meyakinkan Amat.
“Hmm, tapi bagaimana mungkin, setahuku selama ini yahwa Min tidak pernah mencuri. Lagi pula, di ujung jalan sana, yahwa Min juga punya kebun durian sendiri yang jauh lebih luas dari kebunku ini, Din, kau pasti salah orang,” kata Amat masih kekeh tak percaya dengan kabar tersebut.
“Aku serius, Mat. Apa menurutmu, orang tak bisa berubah? Hari ini dia baik, siapa yang akan menjamin kalau besok dia tetap menjadi orang baik," kata Udin mulai membuat Amat mengerutkan keningnya dan mulai berfikir.
“Betul juga kamu, Din," ujar Amat mulai percaya dengan kata-kata Udin.
“Terimakasih karena telah memberi tahuku tentang ini, Din, aku pulang dulu untuk mengabari nenek tentang hal ini, biarlah nenekku yang akan menyelesaikan masalah ini,” kata amat sambil bergegas turun dari rangkang dan sedikit berlari pulang.

***
Tak lama Amat sudah sampai di depan rumahnya. Ia melihat neneknya sedang menyapu daun kering pohon belimbing yang jatuh diterpa angin semalam. Melihat cucunya nampak tergesa-gesa pulang dari kebun, sang nenek menyapanya dengan senyuman.
“Lama juga kau pulang hari ini Amat. Nenek baru saja siap memasak bulukat durian, seperti janjimu semalam," ujar neneknya dengan wajah semeringah.
“Apa, nek?! Nenek masak bulukat durian? Bagaimana bisa? Aku tak membawa pulang durian hari ini, nek,” Amat bingung dengan pernyataan nenek.
“Tadi yahwa Min yang membawa pulang durian nya, Mat. Sambil pulang dari kebunnya, yahwa Min mengutip durian yang ada dibawah pohon kebun kita. Karena ia tahu kau selalu pergi setelah shalat subuh, sedangkan yahwa Min selalu pulang ketika waktu shalat subuh telah tiba. Ia tidak ingin kau selalu pulang dengan tangan kosong. Yahwa Min tahu, selama ini durian di kebun kita bukan nya tidak jatuh, tapi, karena lebih dulu di ambil oleh Udin,” kata nenek Amat yang mampu membuat Amat terkejut.
“Jadi, selama ini Udin lah yang mencuri durian kita, nek?” Amat bertanya setengah tak percaya.
“Iya Mat, selama ini Udin lah yang mencuri durian di kebun kita. Yahwa Min sudah beberapa kali melihat ulah Udin. Makanya, tadi yahwa Min pulang lebih awal untuk membantu mengutip durian di kebun kita, dan tadi setelah matahari terbit, yahwa Min mengantarkannya pada nenek. Ayo Mat, makanlah bulukat durian masakan nenek ini. Terlebih, kau pasti sangat lelah. Coba kau rasa, sama tidak dengan masakan ibumu dulu?” tanya nenek sambil menyodorkan bulukat durian ke hadapan Amat.
Amat mencicipinya, sebelum akhirnya memakan nya dengan lahap sambil menahan rasa sedih namun juga haru yang menyatu di hatinya.
The end
               

Ditulis Oleh: Rahmatullah Yusuf Gogo. Mahasiswa Fakultas Syari’ah dan Ekonomi Islam UIN Ar-raniry. Email: rahmatullah.y@gmail.com
Editor : Fira Zakya, Mahasiswa Fak. Adab dan Humaniora, UIN Ar-Raniry. Email : firazakya91@gmail.com










[1] Sejenis kuah asam khas Aceh.
[2] Sebutan orang tua wali sebelah ayah –Bahasa Aceh-.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar