“Zinta tak pernah mengerti apa
yang kamu bicarakan sekarang, Ranbir. Zinta hanya ingin menjadi lebih dari
sahabat kamu, tapi kenapa jawaban kamu
membuat Zinta bingung?”
Cowok tanpan itu memperbaiki
pecinya. Dan tersenyum sebelum akhirnya berkata, “Ok, aku akan lebih
menghaluskan jawabanku. Zinta binti Hendra, saya, Ranbir menolak untuk
menjadikanmu lebih dari seorang sahabat, maaf.”
Zinta terdiam, ia menatap
Ranbir penuh kasih, Ranbir hanya tersenyum tak enak ke Zinta. Tak terasa air
mata jatuh membasahi pipi Zinta. Ranbir terkejut melihatnya, begitupun Shena,
Hira dan Deo yang ikut menyaksikan pengakuan Zinta tersebut, mereka tak
menyangka bahwa Zinta akan menjatuhkan air mata demi cinta, karena Zinta
terkenal ‘dingin’ dan susah menangis.
“Ok kalau itu jawabanmu, thanks
pernah menjadi sahabat Zinta, sekalian, Zinta mau pamit. Sampai jumpa lagi, dan
Zinta berharap kita masih bisa jadi teman, meskipun kita berjauhan.” Kata Zinta
sambil tersenyum simpul.
“Lu mau kemana, Zi?” kali ini
Hira yang berbicara dengan nada masih terkejut.
“Alhamdulillah Zinta lulus S2
di Turki.”
“Ouh…” sahut Ranbir dan Deo
barengan.
“Gue juga lulus di sana, Zi.”
Kata Hira sambil tersenyum tipis ke Zinta, ia tak menyadari kata-katanya
membuat Deo, Shena dan Ranbir terkejut.
Ke lima mahasiswa yang belum
lama menggenggam gelar S1 ini bukanlah sahabat dekat, hanya Ranbir dan Zinta
serta Shena yang sahabat dekat, tidak dengan Hira, dan Deo. Mereka tak sengaja
dipersatukan dalam kepanitiaan tasyakkuran bagi yang baru lulus S1. Saat itu lah, kebersamaan mereka dalam kepanitiaan membuat keakraban di antara mereka menjadi hangat dan serasa seperti memilik keluarga ke dua. Namun, mereka kembali dipisahkan, karena situasi yang berbeda-beda dan waktu yang terus berjalan.
to be continue...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar