Kamis, 21 Mei 2015

After School

“Zinta tak pernah mengerti apa yang kamu bicarakan sekarang, Ranbir. Zinta hanya ingin menjadi lebih dari sahabat kamu, tapi kenapa jawaban kamu  membuat Zinta bingung?”
Cowok tanpan itu memperbaiki pecinya. Dan tersenyum sebelum akhirnya berkata, “Ok, aku akan lebih menghaluskan jawabanku. Zinta binti Hendra, saya, Ranbir menolak untuk menjadikanmu lebih dari seorang sahabat, maaf.”
Zinta terdiam, ia menatap Ranbir penuh kasih, Ranbir hanya tersenyum tak enak ke Zinta. Tak terasa air mata jatuh membasahi pipi Zinta. Ranbir terkejut melihatnya, begitupun Shena, Hira dan Deo yang ikut menyaksikan pengakuan Zinta tersebut, mereka tak menyangka bahwa Zinta akan menjatuhkan air mata demi cinta, karena Zinta terkenal ‘dingin’ dan susah menangis.
“Ok kalau itu jawabanmu, thanks pernah menjadi sahabat Zinta, sekalian, Zinta mau pamit. Sampai jumpa lagi, dan Zinta berharap kita masih bisa jadi teman, meskipun kita berjauhan.” Kata Zinta sambil tersenyum simpul.
“Lu mau kemana, Zi?” kali ini Hira yang berbicara dengan nada masih terkejut.
“Alhamdulillah Zinta lulus S2 di Turki.”
“Ouh…” sahut Ranbir dan Deo barengan.
“Gue juga lulus di sana, Zi.” Kata Hira sambil tersenyum tipis ke Zinta, ia tak menyadari kata-katanya membuat Deo, Shena dan Ranbir terkejut.
Ke lima mahasiswa yang belum lama menggenggam gelar S1 ini bukanlah sahabat dekat, hanya Ranbir dan Zinta serta Shena yang sahabat dekat, tidak dengan Hira, dan Deo. Mereka tak sengaja dipersatukan dalam kepanitiaan tasyakkuran bagi yang baru lulus S1. Saat itu lah, kebersamaan mereka dalam kepanitiaan membuat keakraban di antara mereka menjadi hangat dan serasa seperti memilik keluarga ke dua. Namun, mereka kembali dipisahkan, karena situasi yang berbeda-beda dan waktu yang terus berjalan.


to be continue...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar