Gunung
Seulawah
“Bek
bagah that mee Honda hai, Tya.!”[1]
Lengkingan suara Rya membuat Tya tak melambatkan laju motornya.
“Tya,
istirahat dulu, yuk.”
Kali
ini Tya setuju dengan kata-kata Rya. Perjalanan mereka hampir mencapai
tujuannya. Dari Lhokseumawe menuju Banda Aceh mereka tempuh hanya dengan
mengendarai motor Vario. Wajar jika mereka kelelahan. Perjalanan mereka hampir
menempuh waktu 6 jam.
Keduanya
singgah di salah satu tempat peristirahatan Bus atau mobil L300. Warung makan,
mushalla, toilet serta pasar buah ada di sana. Rya dan Tya duduk di salah satu
tempat makan, mereka memilih kursi yang terletak sedikit jauh dari pengunjung
yang lain.
“Hei!
Awak droe neuh agoe! Pajan trouh keuno?”[2]
kata-kata itu membuat Tya dan Rya memaling menghadap ke arah suara berasal.
Empat
cowok yang mereka kenal berdiri santai menatap keduanya sambil tersenyum
senang. Mereka pun bergabung bersama Tya dan Rya. Percakapan mereka terdengar
santai sambil makan.
“Rizkan
kapan kembali dari Mesir, gimana kuliahnya di sana, lagi liburan semester, ya?”
pertanyaan Tya membuat cowok manis dengan kulit kecoklatannya itu menatap Tya
sambil tersenyum.
“Iya.
Cukup menyenangkan kuliah di sana.” Jawabnya singkat.
“Ah,
mimpi ke sana selalu tertunda, suatu hari nanti, pasti bisa ke sana.” Kata kautsar
sambil menerawang jauh.
Obrolan
mereka pun menjurus ke bagaimana gambaran kuliah di negeri timur tengah itu.
Mereka benar-benar menikmati obrolan mereka, bercanda ria hingga tak terasa
waktu menunjukkan pukul 18.30 WIB.
Mereke
pun kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju Banda Aceh. Tak ada yang
berubah, Rizkan tetap bersama Syukrijal, Kautsar dengan Muazar, dan Tya tetap
bersama Rya. Perjalanan Tya dan Rya sedikit berbeda karena Rizkan dan Kautsar
serasa mengawasi mereka, tetap menjaga jarak antara motor mereka dengan motor
Tya dan Rya. Sedangkan motor Syukrijal dan Muazar telah jauh ke depan. Mereka
kembali berhenti, namun sekarang mereka berhenti di Mesjid Seulimum, masjid
yang tak jauh dari tempat mereka istirahat tadi.
Selesai
melaksanakan shalat magrib, mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka. Kali
ini, mereka tetap melajukan motor mereka tanpa jarak yang jauh. Motor per motor
melaju selalu tak terlalu jauh dari motor yang lainnya.
Hingga
sampai ke Banda Aceh, Rizkan dan Syukrijal pamit karena tujuan mereka berbeda
alur dengan arah yang dituju Tya dan Rya. Tapi, saat lampu merah, tiba-tiba
motor Kautsar dan Muazar berdiri tepat di samping motor Tya dan Rya.
“Kalian
lapar, nggak, kita makan bakso 5000 yuk!” ajak Tya sambil melihat ke arah
Kautsar dan Muazar.
“Oke,
tapi kita ke gedung social dulu, bisa? Mau beli buku.” Kata Kautsar sambil
memperbaiki kacamatanya.
“Oke.”
Mereka
pun menuju gedung social. Gedung yang sering digunakan untuk pameran buku itu
terlihat rame. Mereka memasuki gedun itu dan mulai memutari seisi ruangan yang
dipenuhi buku itu.
Setelah
Kautsar menemukan buku yang dicarinya, mereka pun berkumpul di kasir.
“125.000
semuanya.” Kata kasir sambil memberikan buku-buku pilihan Kautsar itu ke dalam
plastic.
“Yuk
makan.” Kata Rya sesampainya mereka di parkiran.
“Tunggu
Rizkan dan Syu dulu, mereka lagi ke sini.”
“Ouh.”
Tak
berapa lama, Rizkan dan Syu pun sampai. Dan tanpa membuang waktu lagi, mereka
pun pergi ke warung bakso 5000.
“Rizkan
manis, ya, Ry.” Kata Tya sedikit berbisik.
Mereka
sedang asyik ngobrol setelah menyantap habis bakso, bercanda ria dan saling
bertukar cerita membuat mereka saling kurang memperhatikan tingkah sesamanya,
sehingga Tya bisa dengan leluasa berbisik-bisik ria dengan Rya. Namun, Rizkan
yang sejenak memerhatikan mereka membuat Tya langsung nyengir.
“Nggak
boleh bisik-bisik lebih dari tiga orang, Tya.” Kata Rizkan membuat yang lain
ikut memerhatikan Tya dan Rya.
“Nggak
bisik-bisik ee, cuma ngomong doing hai.” Kata Tya menggelak.
“Balik
yuk, ngumpul di rumah Rya ja, ya. Sekalian reonian gitu, lagi pun, ada teman
kita yang baru dari Mesir ni, kapan lagi, iya, gak.” Kata Syu membuat yang lain
mengangguk setuju.
Dalam
perjalanan ke rumah Rya, Tya kembali membahas Rizkan.
“Ry,
Rizkan tu kan, udah baik, manis lagi.” Kata Tya membuat Rya lebih mendekatkan
diri ke Tya, dan berkata, “Qe suka sama Rizkan ya, Tya.” Membuat Tya tertawa
keras.
“Aku
nggak suka dia hai, maksdunya, aku ngomong aja, dia itu baik plus manis, gitu
aja. Qe pun ntah apa. Aku bilang kek gitu, biar qe merasa sikit, kalau dia
emang manis, gitu hai.” Kata Tya blak-blakkan.
“Ouh,
terus?”
“Alah
hai Rya, mikir sendiri lah.” Kata Tya sambil terus melajukan motornya, hingga
sampai ke rumah Rya.
Mereka
berkumpul di rumah Rya, kembali minum-minum dan makan kue sedanya. Mereka asyik
mengobrol hingga tak sadar jam menunjukkan pukul 22.00 WIB. Namun, obrolan
masih berlanjut, saat mereka membahas skripsi yang sedang Rya susun.
“Jadi,
Rya kaji novel Mamo dan Zein? Wah, itu novel yang bagus lho, kami di Mesir
pernah menghadiri bedah novel itu.” Kata Rizkan sedikit antusias saat tau Rya
yang mengkaji novel yang pernah dibacanya itu.
Rizkan
dan Rya pun terlibat obrolan sedikit lebih serius.
“Iya,
novel bahasa Indonesianya juga ada.”
“Iya,
tahu. Tapi yang kami baca yang bahasa Arabnya langsung. Tipis novelnya, kan.”
“Mana
ada, tebal. Kalau yang asli mungkin tipis, yang punya penulis aslinya, ini kan
udah di tulis sama yang lain juga.”
“Ouh,
gitu ya.”
“Iya.”
“Ntar
kalau udah siap, jangan di kasih ke dosen pembimbingnya dulu, bisa. Kasih ke
aku aja dulu, aku juga mau liat, gimana jadinya. Bisa, kan?” pertanyaan Rizkan
itu tak hanya membuat Rya heran menatapnya, tapi teman-temannya yang lain juga
melihat seperti itu.
“Bisa-bisa
saja, sih.” Jawab Rya sedikit ragu.
“Oke
kalau gitu, aku tunggu ya.” Kata Rizkan sambil tersenyum.
“Sepertinya
percakapan kalian udah bisa berhenti dulu, kapan-kapan bisa kalian lanjutkan
kembali, karena udah hampir tengah malam ni. Udah bisa pulang kita.” Kata
Kautsar membuat Rizkan mengangguk setuju.
Selepas
mereka pulang, Tya langsung mendekati Rya.
“Qe
tau apa, selama percakapan qe ma Rizkan, kami semua merhatiin kalian berdua
lho, dan kalau di lihat-lihat, kalian cocok juga.” Kata Tya sambil menatap Rya
sambil tersenyum jail.
“Iya,
Ry. Rizkan falling in love with Rya. Wah. Hahaha.” Kali ini Aton, teman Rya dan
Tya juga yang juga ikut bergabung di rumah Rya tampak setuju.
“Apaan,
sih kalian ni. Ntah apa ntah.” Kata Rya cuek.
Tya
dan Aton hanya tersenyum senang menjaili temannya yang satu itu. Namun, tampa
sepengetahuan mereka, Rya juga merasa ada yang aneh dengan sikap Rizkan tadi,
dan otomatis, Rizkan telah berhasil masuk dalam pikiran Rya, sebelum akhirnya,
masuk ke hatinya.
Beberapa
hari keemudian…
“Ouh,
begitu ceritanya.” Kata Kya setelah Rya menceritakan tentang Rizkan kepadanya.
“Iya.
Ntah apa orang ini, suka kali ejek-ejek orang.” Kata Rya sewot.
“Lho,
bukannya bagus, Ry. Kan kalau qe jadi sama si Mamo itu, jadinya bisa ikot dia
ke Mesir, iya, nggak.” Kata Kya yang sesuka hati menjuluki Rizkan dengan
sebutan Mamo, tokoh cowok dalam cerita Mamo dan Zein yang sedang di kaji Rya.
“Tapi
nggak jelas, Ky. Dia serius atau bercanda tentang skripsi aku itu.” Kata Rya
terdengar kecewa.
Kya
terus melajukan motornya menuju Lampuuk, salah satu laut yang ada di Banda
Aceh. Motor Tya dan Ratna yang juga teman Rya telah lebih dulu melaju di depan
mereka.
Obrolan
antara Kya dan Rya kembali berlanjut. Kini, giliran Kya yang memberi sedikit
intruksi ke Rya.
“Ry,
kalau emang dia baik, kenapa nggak. Anggap aja itu serius.”
“Nggak
tau ya, Ky. Tapi, waktu kumpul di rumah aku kemaren tu, si Kautsat bilang, dia
lebih tua dari kami-kami. Tahun kelahiran 88 gitu.”
“Kan
bagus tu. Apa lagi.”
“Gimana
yang apa lagi, Ky. Nggak jelas hai. Orang dia jauh gitu, terus, nggak pun kami
sering komunikasi.”
“Hmm…
gitu ya. Susah juga, sih tu. Gini aja, kalau emang kalian berjodoh, itu nggak
akan kemana, kok. Iya, kan.”
“Iya.
Betol tu.” Kata Rya terdengar senang.
Mereka
pun terdiam. Sama-sama sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
Beberapa
minggu kemudian…
Rizkan,
udah siap skripsinya. Gimana, mau Rya kirim kemana?
Sent to : Rizkan
Lama
Rya menunggu, juga ditemani Tya, Kya dan Ratna. Tak ada balasan hingga beberapa
menit kedepan.
“Dia
nggak serius, lho.” Kata Kya membuat yang lain hanya diam.
Tiba-tiba
HP Rya berbunyi tanda sms masuk.
Maaf,
Rya mana, ya?
From
: Rizkan
“Tu
kan, dia aja nggak ingat Rya yang mana.” Kali ini Kya geleng-geleng kepala.
“Sini,
biar aq yang balas.” Kata Tya sambil merebut HP dari tangan Rya yang hanya
diam.
Are you remember me, Mamo? Aq Zein hai. Masih
nggak ingat juga. Ya udah lah, maaf, sudah mengganggu.
Sent to : Rizkan
“Hai Tya, apa qe balas, ntah apa ntah dia ni.”
Kata Rya sedikit kesal.
“Tenang, qe liat aja ntar, apa di balas.” Kata Tya
tenang.
Lama, taka da balasan. Satu jam kemudian, saat Rya,dan yang
lain sendang asik makan siang, HP Rya kembali berbunyi, tanda ada yang
menelepon.
“Sapa yang nelpon, Ry?” Tanya Tya saat Rya masih menatap layar
HP a tanpa menjawab panggilan itu.
“Rizkan.”
“Angkat dong.” Kata Tya yang sudah berada di sisi Rya.
Rya menjawab telepon itu, dan menjauh dari teman-temannya. Tya
dan yang lainnya sedikit kesal, kenapa harus menjauh, coba? Kan mereka juga
tau.
Setelah sejam kemudian, Rya kembali ke dalam rumah dan duduk
di sisi Tya, sambil memeluknya erat. Tya, Kya dan Ratna binggung dibuatnya.
“Kenapa, Ry? Apa katanya?” Tanya Tya sedikit khawatir.
“Dia bilang, tunggu dia libur sekali lagi ya, dia mau dating
ke rumah, jumpa ayah ma mamak, mau minta bawa aq ke Mesir juga.” Cerita Rya
senang.
Histeris ketiga temannya itu langsung memeluk Rya.
“Terus, qe jawab apa?” Tanya Tya sambil melepas pelukannya.
“Iya, aku tunggu, ya. Udah gitu aja.” Kata Rya malu-malu.
Mereka kembali berpelukan.
“Selamat ya Ry, sayang.” Kata Ratna sambil tersenyum senang.
“Itu tandanya, qe harus cepat siapin S1, kan. Wah, caranya
emang keren. Mantap si Rizkan tu, Ry.” Kata Tya senang.
Rya hanya tersenyum senang.
“Aku piker dia udah nggak ingat sama aku lagi pun, hahaha.”
Kata Rya sambil tertawa senang.
Ke tiga temannya pun ikut tertawa.
“Selamat ya, akhirnya mimpimu ke Mesir tercapai juga.” Kata
Kya menatap Rya senang.
“Iya, ky.”
Hahaha…mereka pun tertawa senang.
The
End
Skylover
At,
Banda Aceh, 02/11/2014.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar