Kamis, 21 Mei 2015

Berawal Di Gunung Seulawah

Gunung Seulawah
“Bek bagah that mee Honda hai, Tya.!”[1] Lengkingan suara Rya membuat Tya tak melambatkan laju motornya.
“Tya, istirahat dulu, yuk.”
Kali ini Tya setuju dengan kata-kata Rya. Perjalanan mereka hampir mencapai tujuannya. Dari Lhokseumawe menuju Banda Aceh mereka tempuh hanya dengan mengendarai motor Vario. Wajar jika mereka kelelahan. Perjalanan mereka hampir menempuh waktu 6 jam.
Keduanya singgah di salah satu tempat peristirahatan Bus atau mobil L300. Warung makan, mushalla, toilet serta pasar buah ada di sana. Rya dan Tya duduk di salah satu tempat makan, mereka memilih kursi yang terletak sedikit jauh dari pengunjung yang lain.
“Hei! Awak droe neuh agoe! Pajan trouh keuno?”[2] kata-kata itu membuat Tya dan Rya memaling menghadap ke arah suara berasal.
Empat cowok yang mereka kenal berdiri santai menatap keduanya sambil tersenyum senang. Mereka pun bergabung bersama Tya dan Rya. Percakapan mereka terdengar santai sambil makan.
“Rizkan kapan kembali dari Mesir, gimana kuliahnya di sana, lagi liburan semester, ya?” pertanyaan Tya membuat cowok manis dengan kulit kecoklatannya itu menatap Tya sambil tersenyum.
“Iya. Cukup menyenangkan kuliah di sana.” Jawabnya singkat.
“Ah, mimpi ke sana selalu tertunda, suatu hari nanti, pasti bisa ke sana.” Kata kautsar sambil menerawang jauh.
Obrolan mereka pun menjurus ke bagaimana gambaran kuliah di negeri timur tengah itu. Mereka benar-benar menikmati obrolan mereka, bercanda ria hingga tak terasa waktu menunjukkan pukul 18.30 WIB.
Mereke pun kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju Banda Aceh. Tak ada yang berubah, Rizkan tetap bersama Syukrijal, Kautsar dengan Muazar, dan Tya tetap bersama Rya. Perjalanan Tya dan Rya sedikit berbeda karena Rizkan dan Kautsar serasa mengawasi mereka, tetap menjaga jarak antara motor mereka dengan motor Tya dan Rya. Sedangkan motor Syukrijal dan Muazar telah jauh ke depan. Mereka kembali berhenti, namun sekarang mereka berhenti di Mesjid Seulimum, masjid yang tak jauh dari tempat mereka istirahat tadi.
Selesai melaksanakan shalat magrib, mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka. Kali ini, mereka tetap melajukan motor mereka tanpa jarak yang jauh. Motor per motor melaju selalu tak terlalu jauh dari motor yang lainnya.
Hingga sampai ke Banda Aceh, Rizkan dan Syukrijal pamit karena tujuan mereka berbeda alur dengan arah yang dituju Tya dan Rya. Tapi, saat lampu merah, tiba-tiba motor Kautsar dan Muazar berdiri tepat di samping motor Tya dan Rya.
“Kalian lapar, nggak, kita makan bakso 5000 yuk!” ajak Tya sambil melihat ke arah Kautsar dan Muazar.
“Oke, tapi kita ke gedung social dulu, bisa? Mau beli buku.” Kata Kautsar sambil memperbaiki kacamatanya.
“Oke.”
Mereka pun menuju gedung social. Gedung yang sering digunakan untuk pameran buku itu terlihat rame. Mereka memasuki gedun itu dan mulai memutari seisi ruangan yang dipenuhi buku itu.
Setelah Kautsar menemukan buku yang dicarinya, mereka pun berkumpul di kasir.
“125.000 semuanya.” Kata kasir sambil memberikan buku-buku pilihan Kautsar itu ke dalam plastic.
“Yuk makan.” Kata Rya sesampainya mereka di parkiran.
“Tunggu Rizkan dan Syu dulu, mereka lagi ke sini.”
“Ouh.”
Tak berapa lama, Rizkan dan Syu pun sampai. Dan tanpa membuang waktu lagi, mereka pun pergi ke warung bakso 5000.
“Rizkan manis, ya, Ry.” Kata Tya sedikit berbisik.
Mereka sedang asyik ngobrol setelah menyantap habis bakso, bercanda ria dan saling bertukar cerita membuat mereka saling kurang memperhatikan tingkah sesamanya, sehingga Tya bisa dengan leluasa berbisik-bisik ria dengan Rya. Namun, Rizkan yang sejenak memerhatikan mereka membuat Tya langsung nyengir.
“Nggak boleh bisik-bisik lebih dari tiga orang, Tya.” Kata Rizkan membuat yang lain ikut memerhatikan Tya dan Rya.
“Nggak bisik-bisik ee, cuma ngomong doing hai.” Kata Tya menggelak.
“Balik yuk, ngumpul di rumah Rya ja, ya. Sekalian reonian gitu, lagi pun, ada teman kita yang baru dari Mesir ni, kapan lagi, iya, gak.” Kata Syu membuat yang lain mengangguk setuju.
Dalam perjalanan ke rumah Rya, Tya kembali membahas Rizkan.
“Ry, Rizkan tu kan, udah baik, manis lagi.” Kata Tya membuat Rya lebih mendekatkan diri ke Tya, dan berkata, “Qe suka sama Rizkan ya, Tya.” Membuat Tya tertawa keras.
“Aku nggak suka dia hai, maksdunya, aku ngomong aja, dia itu baik plus manis, gitu aja. Qe pun ntah apa. Aku bilang kek gitu, biar qe merasa sikit, kalau dia emang manis, gitu hai.” Kata Tya blak-blakkan.
“Ouh, terus?”
“Alah hai Rya, mikir sendiri lah.” Kata Tya sambil terus melajukan motornya, hingga sampai ke rumah Rya.
Mereka berkumpul di rumah Rya, kembali minum-minum dan makan kue sedanya. Mereka asyik mengobrol hingga tak sadar jam menunjukkan pukul 22.00 WIB. Namun, obrolan masih berlanjut, saat mereka membahas skripsi yang sedang Rya susun.
“Jadi, Rya kaji novel Mamo dan Zein? Wah, itu novel yang bagus lho, kami di Mesir pernah menghadiri bedah novel itu.” Kata Rizkan sedikit antusias saat tau Rya yang mengkaji novel yang pernah dibacanya itu.
Rizkan dan Rya pun terlibat obrolan sedikit lebih serius.
“Iya, novel bahasa Indonesianya juga ada.”
“Iya, tahu. Tapi yang kami baca yang bahasa Arabnya langsung. Tipis novelnya, kan.”
“Mana ada, tebal. Kalau yang asli mungkin tipis, yang punya penulis aslinya, ini kan udah di tulis sama yang lain juga.”
“Ouh, gitu ya.”
“Iya.”
“Ntar kalau udah siap, jangan di kasih ke dosen pembimbingnya dulu, bisa. Kasih ke aku aja dulu, aku juga mau liat, gimana jadinya. Bisa, kan?” pertanyaan Rizkan itu tak hanya membuat Rya heran menatapnya, tapi teman-temannya yang lain juga melihat seperti itu.
“Bisa-bisa saja, sih.” Jawab Rya sedikit ragu.
“Oke kalau gitu, aku tunggu ya.” Kata Rizkan sambil tersenyum.
“Sepertinya percakapan kalian udah bisa berhenti dulu, kapan-kapan bisa kalian lanjutkan kembali, karena udah hampir tengah malam ni. Udah bisa pulang kita.” Kata Kautsar membuat Rizkan mengangguk setuju.
Selepas mereka pulang, Tya langsung mendekati Rya.
“Qe tau apa, selama percakapan qe ma Rizkan, kami semua merhatiin kalian berdua lho, dan kalau di lihat-lihat, kalian cocok juga.” Kata Tya sambil menatap Rya sambil tersenyum jail.
“Iya, Ry. Rizkan falling in love with Rya. Wah. Hahaha.” Kali ini Aton, teman Rya dan Tya juga yang juga ikut bergabung di rumah Rya tampak setuju.
“Apaan, sih kalian ni. Ntah apa ntah.” Kata Rya cuek.
Tya dan Aton hanya tersenyum senang menjaili temannya yang satu itu. Namun, tampa sepengetahuan mereka, Rya juga merasa ada yang aneh dengan sikap Rizkan tadi, dan otomatis, Rizkan telah berhasil masuk dalam pikiran Rya, sebelum akhirnya, masuk ke hatinya.
Beberapa hari keemudian…
“Ouh, begitu ceritanya.” Kata Kya setelah Rya menceritakan tentang Rizkan kepadanya.
“Iya. Ntah apa orang ini, suka kali ejek-ejek orang.” Kata Rya sewot.
“Lho, bukannya bagus, Ry. Kan kalau qe jadi sama si Mamo itu, jadinya bisa ikot dia ke Mesir, iya, nggak.” Kata Kya yang sesuka hati menjuluki Rizkan dengan sebutan Mamo, tokoh cowok dalam cerita Mamo dan Zein yang sedang di kaji Rya.
“Tapi nggak jelas, Ky. Dia serius atau bercanda tentang skripsi aku itu.” Kata Rya terdengar kecewa.
Kya terus melajukan motornya menuju Lampuuk, salah satu laut yang ada di Banda Aceh. Motor Tya dan Ratna yang juga teman Rya telah lebih dulu melaju di depan mereka.
Obrolan antara Kya dan Rya kembali berlanjut. Kini, giliran Kya yang memberi sedikit intruksi ke Rya.
“Ry, kalau emang dia baik, kenapa nggak. Anggap aja itu serius.”
“Nggak tau ya, Ky. Tapi, waktu kumpul di rumah aku kemaren tu, si Kautsat bilang, dia lebih tua dari kami-kami. Tahun kelahiran 88 gitu.”
“Kan bagus tu. Apa lagi.”
“Gimana yang apa lagi, Ky. Nggak jelas hai. Orang dia jauh gitu, terus, nggak pun kami sering komunikasi.”
“Hmm… gitu ya. Susah juga, sih tu. Gini aja, kalau emang kalian berjodoh, itu nggak akan kemana, kok. Iya, kan.”
“Iya. Betol tu.” Kata Rya terdengar senang.
Mereka pun terdiam. Sama-sama sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
Beberapa minggu kemudian…
Rizkan, udah siap skripsinya. Gimana, mau Rya kirim kemana?
          Sent to : Rizkan
Lama Rya menunggu, juga ditemani Tya, Kya dan Ratna. Tak ada balasan hingga beberapa menit kedepan.
“Dia nggak serius, lho.” Kata Kya membuat yang lain hanya diam.
Tiba-tiba HP Rya berbunyi tanda sms masuk.
Maaf, Rya mana, ya?
From : Rizkan
“Tu kan, dia aja nggak ingat Rya yang mana.” Kali ini Kya geleng-geleng kepala.
“Sini, biar aq yang balas.” Kata Tya sambil merebut HP dari tangan Rya yang hanya diam.
Are you remember me, Mamo? Aq Zein hai. Masih nggak ingat juga. Ya udah lah, maaf, sudah mengganggu.
Sent to : Rizkan
“Hai Tya, apa qe balas, ntah apa ntah dia ni.” Kata Rya sedikit kesal.
“Tenang, qe liat aja ntar, apa di balas.” Kata Tya tenang.
Lama, taka da balasan. Satu jam kemudian, saat Rya,dan yang lain sendang asik makan siang, HP Rya kembali berbunyi, tanda ada yang menelepon.
“Sapa yang nelpon, Ry?” Tanya Tya saat Rya masih menatap layar HP a tanpa menjawab panggilan itu.
“Rizkan.”
“Angkat dong.” Kata Tya yang sudah berada di sisi Rya.
Rya menjawab telepon itu, dan menjauh dari teman-temannya. Tya dan yang lainnya sedikit kesal, kenapa harus menjauh, coba? Kan mereka juga tau.
Setelah sejam kemudian, Rya kembali ke dalam rumah dan duduk di sisi Tya, sambil memeluknya erat. Tya, Kya dan Ratna binggung dibuatnya.
“Kenapa, Ry? Apa katanya?” Tanya Tya sedikit khawatir.
“Dia bilang, tunggu dia libur sekali lagi ya, dia mau dating ke rumah, jumpa ayah ma mamak, mau minta bawa aq ke Mesir juga.” Cerita Rya senang.
Histeris ketiga temannya itu langsung memeluk Rya.
“Terus, qe jawab apa?” Tanya Tya sambil melepas pelukannya.
“Iya, aku tunggu, ya. Udah gitu aja.” Kata Rya malu-malu.
Mereka kembali berpelukan.
“Selamat ya Ry, sayang.” Kata Ratna sambil tersenyum senang.
“Itu tandanya, qe harus cepat siapin S1, kan. Wah, caranya emang keren. Mantap si Rizkan tu, Ry.” Kata Tya senang.
Rya hanya tersenyum senang.
“Aku piker dia udah nggak ingat sama aku lagi pun, hahaha.” Kata Rya sambil tertawa senang.
Ke tiga temannya pun ikut tertawa.
“Selamat ya, akhirnya mimpimu ke Mesir tercapai juga.” Kata Kya menatap Rya senang.
“Iya, ky.”
Hahaha…mereka pun tertawa senang.

                                                                             The End
                                                                                      Skylover
                                                                   At, Banda Aceh, 02/11/2014.




[1] Jangan cepat bawa motornya, Tya.
[2] Hei! Ternyata kalian kok, kapan sampai ke sini?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar